2/06/2013

“Wah Ieu mah Jual Dedet…”

Seorang ibu keluar dari antrian dengan muka di tekuk, mulutnya bersungut – sungut, anaknya yang masih balita menangis dituntun setengah diseret menuju pintu masuk yang di jaga dua orang satpam bertampang sangar dan tak kalah ditekuk, tapi tidak membuat si ibu lantas jadi takut malah sayup terdengar kicauannya pada kedua satpam  yang menunjukan tampang siap berperang.

“peraturan apalagi ini masa anak saya dua tahun juga belum… sudah diharuskan beli karcis, aneh… diakan masih bisa digendong… mending kalau pelayanannya bagus, ini mah semakin hari malah semakin ngga bener,  sering telat, petugasnya tidak ramah, tukang karcisnya judes, sampai satpamnya juga menyebalkan….!”
Pemandangan seperti barusan memang sudah biasa terjadi, dongkol, kesal, marah, keluh kesah entah apalagi bahasanya toh tidak bisa merubah kebijakan yang sudah ditetapkan oleh PT. Kereta Api Indonesia (PT. KAI)
“Protes dari orang kecil yang “terpaksa” naik Kereta lokal Bandung khususnya, tidak pernah digubris, semuanya dianggap angin lalu saja” kata seorang calon penumpang yang sedang mengantri.
Memang kebijakan yang di tetapkan oleh PT. KAI, bagi orang Kabupaten Bandung yang berdomisili di Cicalengka, Rancaekek, Cimekar itu sangat menyesakan dada, dari mulai harga kereta patas yang tidak Bersahabat (untuk sebagian besar pengguna kereta).

Perlu diketahui Harga Patas AC adalah Rp. 10.000 “dengan cuaca bandung yang sedang musim hujan seperti ini malah menjadi senjata makan tuan, pulang kerumah kerokan  masuk angin” kata seorang penumpang yang tidak mau disebutkan namanya.

Memang ada juga patas non AC Rp. 7000 hanya saja jadwalnya tidak bersahabat bagi  para pelajar dan buruh yang jam masuk kantor atau kelasnya di bawah setengah Sembilan pagi, meski  para pekerja yang masuk jam setengah Sembilan juga banyak yang enggan naik kereta patas jam 07.20, karena jadwalnya tidak pernah tepat alias selalu molor dan sering mogok, imbasnya ya… potong gaji karena sering kesiangan, Memang bagi yang dana transportasinya terbatas ada kereta KRD ekonomi jam  5. 20 pagi, harganya murah meriah Cuma Rp. 1500 (baru januari/akhir Desember kemarin naik kalau tidak salah) sangat disayangkan harga memang tidak pernah bohong... jangankan bisa duduk, bisa berdiri dengan nyaman saja tidak memungkinkan, berdesak – desakan sampai tumpah kesamping dan meluap keatas atap.
Ada kabar, akan ada pembatasan penumpang KRD, katanya untuk memanusiakan kembali penumpang kehabitat aslinya tidak berdesak desakan seperti kambing, menumpuk seperti ikan asin yang dijajakan di jongko pasar Dangdeur.

 Tapi masalahnya PT. KAI hanya menyediakan Patas AC. Rp. 10.000 untuk jadwal keberangkatan berikutnya yang normal "kalaupun telat tidak sampai terlambat masuk kantor atau sekolah", baik bagi pelajar atupun buruh (tarif pelajar dan buruh tidak dibedakan) harga ini kurang bisa berkompromi dengan keuangan mereka yang pas – pasan.
Patas non AC Pkl. 07.20, harganya sedikit lebih murah (untuk sebagian orang harga ini juga masih kemahalan) jadwal keberangkatanya Pkl. 07.20 tidak memungkinkan untuk menjadi alternatif apalagi sering telat (mogok, silang ditahan, berhenti disetiap stasiun yang dilewati dll), “wah Ieu mah jual dedet” kata seorang teman saat mengetahui akan ada peraturan itu dengan nada seloroh dalam bahasa sunda.

Tidak ada komentar: