Patas 17 : 10 menit…
Aku hapus uap dari kaca jendela kereta, berharap udara diluar sehangat
udara yang kurasakan kini… meski kenyataanya tidak demikian karena
diluar hujan sangat deras, senja semakin merangkak memisahkan obsesi dan
batas kemampuan… cukup untuk hari ini, kereta ini akan mengantarkan aku pulang meski terlambat…
Dari balik kaca aku menyaksikan kembali putaran drama kehidupan, anak kecil berlarian bermain dibawah hujan, aku tersenyum, dulu aku ada diantara mereka… menantang hujan bertelanjang dada, lupa rasa dingin, rasa lapar juga lupa rasa sakitnya cambukan sapu lidi di kakiku yang kotor sore kemarin…
Perlahan kereta ini melaju meninggalkan masa itu, setiap setingnya berpindah pasti… terlihat hamparan lahan sawah yang ditanami patok - patok beton berwarna biru disela sela padi yang mulai menguning, menurut berita yang tidak sengaja aku dengar “akan ada proyek perluasan jalan dan perumahan”, lagi dan lagi... Hmmmh….
Aku menarik napas dalam, mengalihkan pandanganku kedalam kereta ketika seseorang menepuk pundakku, kondektur bertubuh tinggi dan tambun memandangku tanpa expresi aku segera memberikan tiket, dia memeriksanya kemudian berlalu tanpa kata…
Beberapa detik aku terdiam memandang kosong lurus kedepan, tanpa sadar pandanganku terpaku pada seorang gadis cantik berhidung mancung yang juga sedang asyik melamun memandang kearahku, pandangan kami bertemu secara tidak sengaja, setelah sadar dia terlihat salah tingkah, akhirnya dia tersenyum manis kepadaku menghapus kekakuannya, aku membalas senyuman itu kikuk, tidak menyangka akan ada sambutan yang meriah seperti ini, lupa dari tadi kita duduk saling berhadapan…
Jadi tergoda ingin menyapa mengajaknya berbincang untuk membunuh waktu dalam perjalanan yang singkat namun membosankan ini… aku memulai dengan hujan, dengan dingin dan dengan drama yang di putar disepanjang jalan yang terewati kereta ini, kemudian pembicaraan kami berkembang tidak berujung tidak berpangkal mengalir seperti air hujan diluar yang semakin deras memandikan kereta. Sesekali dia tersenyum diselingi tawa renyah saat aku mencandainya.
18.38 menit kereta berhenti berlahan di stasiun tempat tujuanku, ku lirik hujan masih deras di luar sana, aku memandang si gadis berhidung mancung, dia memberikan senyuman manis itu lagi dengan Cuma Cuma… matanya mengisyaratkan ingin berbertemu kembali, dia memberikan nomor handphone dan aku berjanji akan menghubungi… setelah itu kami benar benar berpisah, aku meninggalkannya kembali sendiri, dia akan berhenti di setasiun berikutnya setelah setasiun ini….
Kaki baru saja menginjak lantai setasiun yang becek berlubang, satu langkah setelah turun dari kereta… hujan deras tidak sempat membasahi rambutku yang selalu rapi, sebuah payung berwarna perak telah melindungi badanku dari siraman air hujan ….
Wanita bergamis biru lusuh telah melindungiku dari siraman air hujan dengan payungnya, dia sendiri basah kuyup… dia tersenyum, seyuman yang sudah aku kenal selama hampir sepuluh tahun… Aku menghentikan langkahku di tempat teduh, kuperhatikan wajahnya yang basah… ada sisa lipstick tipis di bibirnya, ada sisa bedak di pipinya, kerudung merah mudanya sudah berantakan kusut masai…. semuanya luntur, wanita ini berusaha untuk tampil cantik menyambut kepulanganku…
Aku memandangi punggung kereta yang melaju perlahan dan semakin menjauh kemudian menghilang di telan kabut senja yang menghitam… ku remas secarik kertas kemudian membuangnya kedalam air selokan yang meluap kejalan…
Ku biarkan tubuh kami berdua tersiram hujan, Wanita ini memelukku erat dari belakang, sepeda berwarna ungu tua melaju perlahan…. kami berboncengan dibawah hujan.
“Aku mencintaimu sayang…”
— bersama Dewi Oktafiani.
Aku hapus uap dari kaca jendela kereta, berharap udara diluar sehangat
udara yang kurasakan kini… meski kenyataanya tidak demikian karena
diluar hujan sangat deras, senja semakin merangkak memisahkan obsesi dan
batas kemampuan… cukup untuk hari ini, kereta ini akan mengantarkan aku pulang meski terlambat…Dari balik kaca aku menyaksikan kembali putaran drama kehidupan, anak kecil berlarian bermain dibawah hujan, aku tersenyum, dulu aku ada diantara mereka… menantang hujan bertelanjang dada, lupa rasa dingin, rasa lapar juga lupa rasa sakitnya cambukan sapu lidi di kakiku yang kotor sore kemarin…
Perlahan kereta ini melaju meninggalkan masa itu, setiap setingnya berpindah pasti… terlihat hamparan lahan sawah yang ditanami patok - patok beton berwarna biru disela sela padi yang mulai menguning, menurut berita yang tidak sengaja aku dengar “akan ada proyek perluasan jalan dan perumahan”, lagi dan lagi... Hmmmh….
Aku menarik napas dalam, mengalihkan pandanganku kedalam kereta ketika seseorang menepuk pundakku, kondektur bertubuh tinggi dan tambun memandangku tanpa expresi aku segera memberikan tiket, dia memeriksanya kemudian berlalu tanpa kata…
Beberapa detik aku terdiam memandang kosong lurus kedepan, tanpa sadar pandanganku terpaku pada seorang gadis cantik berhidung mancung yang juga sedang asyik melamun memandang kearahku, pandangan kami bertemu secara tidak sengaja, setelah sadar dia terlihat salah tingkah, akhirnya dia tersenyum manis kepadaku menghapus kekakuannya, aku membalas senyuman itu kikuk, tidak menyangka akan ada sambutan yang meriah seperti ini, lupa dari tadi kita duduk saling berhadapan…
Jadi tergoda ingin menyapa mengajaknya berbincang untuk membunuh waktu dalam perjalanan yang singkat namun membosankan ini… aku memulai dengan hujan, dengan dingin dan dengan drama yang di putar disepanjang jalan yang terewati kereta ini, kemudian pembicaraan kami berkembang tidak berujung tidak berpangkal mengalir seperti air hujan diluar yang semakin deras memandikan kereta. Sesekali dia tersenyum diselingi tawa renyah saat aku mencandainya.
18.38 menit kereta berhenti berlahan di stasiun tempat tujuanku, ku lirik hujan masih deras di luar sana, aku memandang si gadis berhidung mancung, dia memberikan senyuman manis itu lagi dengan Cuma Cuma… matanya mengisyaratkan ingin berbertemu kembali, dia memberikan nomor handphone dan aku berjanji akan menghubungi… setelah itu kami benar benar berpisah, aku meninggalkannya kembali sendiri, dia akan berhenti di setasiun berikutnya setelah setasiun ini….
Kaki baru saja menginjak lantai setasiun yang becek berlubang, satu langkah setelah turun dari kereta… hujan deras tidak sempat membasahi rambutku yang selalu rapi, sebuah payung berwarna perak telah melindungi badanku dari siraman air hujan ….
Wanita bergamis biru lusuh telah melindungiku dari siraman air hujan dengan payungnya, dia sendiri basah kuyup… dia tersenyum, seyuman yang sudah aku kenal selama hampir sepuluh tahun… Aku menghentikan langkahku di tempat teduh, kuperhatikan wajahnya yang basah… ada sisa lipstick tipis di bibirnya, ada sisa bedak di pipinya, kerudung merah mudanya sudah berantakan kusut masai…. semuanya luntur, wanita ini berusaha untuk tampil cantik menyambut kepulanganku…
Aku memandangi punggung kereta yang melaju perlahan dan semakin menjauh kemudian menghilang di telan kabut senja yang menghitam… ku remas secarik kertas kemudian membuangnya kedalam air selokan yang meluap kejalan…
Ku biarkan tubuh kami berdua tersiram hujan, Wanita ini memelukku erat dari belakang, sepeda berwarna ungu tua melaju perlahan…. kami berboncengan dibawah hujan.
“Aku mencintaimu sayang…”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar